Pebisnis Empedu Kobra Mempertaruhkan Nyawa Berbekal Keris

Pebisnis Empedu Kobra Mempertaruhkan Nyawa Berbekal Keris

Pebisnis Empedu Kobra Mempertaruhkan Nyawa Berbekal Keris – Warga Kabupaten Mojokerto Muhammad Arifin (43) mengakui, berbisnis empedu ular cobra sama saja dengan bertaruh nyawa. Jumpapoker Setiap hari harus bergelut dengan ular berbisa.

Ia sudah 6 tahun menekuni bisnis empedu ular kobra. Arifin akrab disapa Cak Bulus di kampungnya. Pada usianya yang sudah yang mendekati 50 tahun, ia meiliki paras seperti anak muda. Di sebabkan oleh rambut bapak dari 3 anak tersebut di cat pirang.

Namun di balik parasnya yang nyentrik dan bicaranya yang lucu, Arifin sangat mahir untuk menangkap ular Cobra. Menangkap kobra dari sangkar dengan tangan kosong, sudah menjadi rutinitas Cak Bulus. Dengan bermodalkan sarung tangan kain setiap kali berburu cobra.

“Selama 6 tahun berburu, alhamdulilah hanya sekali saya tergigit cobra, ” ucap Arifin terhadap wartawan di rumahnya, Dusun tunggulmoro, Desa Kutoporong, kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, selasa 15-06-2020.

Beruntung gigitan kobra tidak berakibat fatal bagi Arifin. Saat itu, dia merasakan detak jantungnya melemah. Dia langsung menghisap bekas gigitan tangannya menggunakan mulut.

“Setelah itu saya menempelkan keris warisan kakek di bekas gigitan. Kemudian saya minum empedu kobra sebagai penawar racun. Alhamdulillah sembuh,” ungkapnya.

Baca Juga = Era New Normal, Apakah wajib memakai masker

Keris pusaka tersebut, diyakini Arifin mempunyai kekuatan magis. Karena keris itu warisan kakeknya yang berprofesi sebagai pemburu ular.

“Keris ini punya kekuatan. Kakek saya dulu pemburu ular,” ujarnya.

Untuk mengambil empedu kobra, Arifin dibantu anak buahnya yang piawai menangkap ular berbisa. Pria bernama Sarito (60) itu sudah berulang kali digigit ular kobra. Namun, bisa atau racun ular tersebut mampu dikalahkan dengan cara yang sama.

“Setiap tergigit kobra, Pak Sarito selalu meminum empedu kobra sebagai penawar racun,” jelasnya.

Untuk mengonsumsi empedu kobra yang masih segar ternyata cukup ekstrem. Kobra yang masih hidup, disembelih untuk diambil darahnya. Darah kobra dituangkan ke gelas kecil.

Untuk mengurangi rasa darah, Arifin mencampurnya dengan madu asli. Barulah empedu kobra diambil dari bagian dekat ekor ular. Sebiji empedu itu dicampur ke dalam darah dan madu, lalu diaduk dan diminum.

Keuntungan yang diraup Arifin dari bisnis empedu kobra rupanya tak sebanding dengan risiko tergigit ular berbisa tersebut. Rata-rata dia hanya mendapatkan keuntungan Rp 15 ribu dari setiap ular kobra.

Karena empedu kobra dia jual Rp 25 ribu per biji. Sedangkan seekor kobra dia beli dari para pengepul Rp 10 ribu per ekor.

“Mau bagaimana lagi, saya tidak punya pekerjaan lain. Tergigit kobra sudah menjadi risiko pekerjaan saya,” lanjutnya.

Rata-rata dalam sebulan, Arifin mampu menjual 50 biji empedu kobra. Omzetnya sekitar Rp 1.250.000.

Arifin juga menjual daging bekicot, biawak dan katak. Omzet dari seluruh bisnis tak biasa ini mencapai Rp 20 juta dalam sebulan. Dia kini mempekerjakan 3 karyawan.

Be the first to comment

Tinggalkan komentar